SUMBER PRIMER
SUMBER PRIMER
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Dalam historiografi, sumber primer adalah
suatu dokumen atau sumber informasi lain yang diciptakan pada atau
di sekitar waktu yang sedang dipelajari, sering kali oleh orang yang sedang
dipelajari. Kata "primer" dalam hal ini bukan berarti superior,
melainkan merujuk pada kenyataan bahwa sumber tersebut dibuat oleh pelaku
primer. Sumber semacam ini dibedakan dari sumber sekunder, yang merupakan karya
historis, seperti buku atau artikel, yang dibuat berdasarkan sumber-sumber
primer.
Tipe sumber primer
Jenis-jenis sumber
primer tergantung pada masalah sejarah yang sedang dipelajari. Dalam sejarah
politik, sumber primer utama yang terpenting adalah dokumen seperti laporan
resmi, pidato, surat dan catatan harian oleh partisipan, laporan saksi mata
(contohnya oleh seorang jurnalis yang ada pada saat itu). Dalam sejarah ide atau sejarah intelektual,
sumber primer utama mungkin adalah buku-buku literatur filsafat atau ilmiah. Suatu studi sejarah budaya dapat
memasukkan sumber fiksi seperti novel atau lakon. Dalam arti luas,
sumber primer juga dapat mencakup obyek fisik seperti foto, film, koin,
lukisan, atau bangunan yang diciptakan pada saat itu. Sejarawan dapat pula
mengambil artifak arkeologis dan laporan lisan serta wawancara sebagai
pertimbangan.
Sumber tertulis dapat
dibagi menjadi tiga tipe utama
- Sumber naratif atau
literatur; yang menyampaikan suatu cerita atau pesan. Sumber-sumber ini
tidak dibatasi pada sumber fiksi, tapi juga termasuk catatan harian, film,
biografi, karya ilmiah, dll.
- Sumber diplomatik; termasuk piagam dan dokumen legal
lain yang biasanya mengikuti suatu format tertentu.
- Dokumen sosial; catatan yang dibuat
oleh organisasi, seperti akta kelahiran, catatan pajak, dll.
[sunting]Menggunakan
sumber primer
Idealnya, seorang
sejarawan akan semua sumber primer yang dibuat oleh orang-orang yang terlibat
pada waktu yang sedang dipelajari. Dalam praktiknya, beberapa sumber mungkin
telah rusak, atau tak tersedia sebagai bahan riset. Mungkin satu-satunya
laporan saksi mata yang tersedia mengenai suatu peristiwa hanyalah memoir, otobiografi,
atau wawancara lisan
yang dilakukan beberapa tahun setelah peristiwa tersebut. Kadang, satu-satunya
dokumen yang menyangkut suatu peristiwa atau orang di masa lalu ditulis
beberapa dasawarsa atau abad kemudian. Hal ini merupakan masalah umum dalam
studi klasik, di mana kadang hanya simpulan suatu buku yang dapat ditemukan.
Akurasi dan
objektivitas sumber primer selalu merupakan perhatian bagi para sejarawan.
Partisipan dan saksi mata mungkin salah mengerti mengenai suatu peristiwa atau
mengacaukan laporan mereka (sengaja atau tidak) untuk memperbaiki citra atau
kepentingan mereka. Hal ini seperti ini dapat meningkat pengaruhnya seiring
berjalannya waktu. Karenanya, sejarawan menaruh perhatian khusus pada masalah
ingatan dan upaya partisipan untuk mengingat masa lalu menurut naskah mereka
sendiri. Laporan pemerintah dapat disensor atau diubah untuk alasan propagada
atau menutup-nutupi sesuatu. Kadang, dokumen yang belakangan muncul lebih
akurat, contohnya adalah setelah kematian seseorang, orang menjadi lebih nyaman
untuk menceritakan detail-detail yang memalukan dari orang yang meninggal
tersebut.
Sejarah yang akurat
adalah yang didasarkan pada sumber primer, yang dikaji oleh komunitas terdidik,
yang melaporkan temuan mereka melalui buku, artikel, dan tulisan. Sumber primer
sering sulit diinterpretasikan dan dapat menyimpan tantangan tersebunyi. Makna
kuno dari suatu kata atau konteks sosial tertentu merupakan salah satu jebakan
yang menunggu pendatang baru dalam studi sejarah. Karena alasan ini,
interpretasi beberapa naskah primer sebaiknya diserahkan kepada orang-orang
yang memiliki pelatihan lanjut.
Suatu sumber primer
tidaklah lebih otoritatif atau akurat dibandingkan sumber sekunder. Sumber
sekunder sering mendapatkan kajian sepadan (peer
review), lebih terdokumentasi, dan sering dihasilkan melalui institusi di
mana keakuratan metode sangat penting untuk masa depan karier dan reputasi
pengarang. Sumber primer seperti jurnal, hanya mencerminkan sudut pandang
seseorang terhadap suatu peristiwa, yang bisa jadi tidak jujur, akurat, atau
lengkap. Sejarawan selalu harus menangani sumber primer maupun sekunder dengan
sangat seksama.
Sebagai aturan umum,
sejarawan modern lebih memilih untuk kembali mempelajari sumber-sumber primer
yang tersedia untuk mencari temuan baru atau yang terlewatkan. Sumber primer,
akurat ataupun tidak, menawarkan masukan baru untuk pertanyaan-pertanyaan
sejarah dan kebanyakan sejarah modern berkutat pada penggunaan penuh arsip dan
koleksi khusus demi mencari sumber primer yang berguna. Karya di bidang sejarah
tidak akan dianggap serius jika hanya mengutip sumber sekunder karena hal
tersebut tidak menunjukkan dilakukannya suatu riset orisinil.
Komentar
Posting Komentar